Tak hanya udara, pertahanan laut pun diperkuat. Senjata diperbarui.
Indonesia
sedang meretas kembali ambisi menjadi negara kuat dan disegani dalam
hal pertahanan. Menjadi "Macan Asia" yang tak bisa diremehkan negara
lain.
Salah satu upaya mewujudkannya adalah dengan memperkuat
alat utama sistem senjata (alutsista). Terkait itu, Menteri Pertahanan
RI Purnomo Yusgiantoro, menyatakan pesawat tempur jenis F-16 akan
bertambah menjadi 2 sampai 3 kali lipat dari yang sudah dimiliki TNI AU
saat ini.
Menurut Purnomo, jika tambahan pesawat tempur tersebut
jadi terlaksana, maka skuadron pertahanan udara Indonesia akan menjadi
sangat kuat.
"F-16 akan ditambah, jumlahnya nanti dua kali lipat,
bisa tiga kali lipat," ujar purnomo dalam jumpa pers di Aula Bhineka
Tunggal Ika Kementerian Pertahanan RI, Jakarta, Rabu 15 Agustus 2012.
Hal
tersebut, menurut Purnomo, karena ada sinyal positif dari negara
Amerika Serikat untuk memberikan tambahan lagi F-16 untuk Indonesia.
"Saya dapat laporan dari kunjungan-kunjungan yang ada bahwa mereka (AS)
positif untuk menambahkan lagi kepada kita pesawat F-16. Kalau itu
terjadi skuadron kita akan sangat kuat," kata Purnomo.
Purnomo menerangkan bahwa pemerintah juga melakukan perawatan pesawat F-16 yang sudah dimiliki. "Memang kita lakukan istilahnya falcon-up atau falcon-star untuk terus me-maintenance pesawat F-16 yang sudah ada," kata Purnomo.
Sementara
dalam hal pertahanan wilayah perairan, Wakasal Marsetio menambahkan
bahwa TNI AL sudah membuat kontrak pembelian kapal selam buatan Korea
Selatan. "Rencananya kita akan membeli 3 kapal selam. Ini sudah kontrak
dengan Korea Selatan untuk pembelian 3 kapal selam," kata Marsetio.
Skema
kontrak tersebut, lanjut Marsetio, 2 kapal selam dibuat di Korea
Selatan, 1 kapal selam dibuat PT PAL. "Skema ini tentu dengan transfer
teknologi yang jelas sehingga pada masanya nanti kita tidak hanya
membeli tapi juga bisa memproduksi," kata Marsetio.
Selain itu,
TNI AL juga akan menambah 11 helikopter anti kapal selam untuk menjawab
tantangan ke depan. "Dicanangkan pada tahun 2014 kami membeli 11
helikopter anti kapal selam," kata Marsetio.
Sebab, lanjut
MArsetio, anti kapal selam yang dimiliki saat ini sudah tidak layak lagi
digunakan. "Kita punya heli anti kapal selam tahun 60-an, pada tahun
70-an sudah pensiun semua atau sudah tak layak," kata Marsetio.
0 Comments:
Post a Comment